Memimpin dengan Eling: Kebenaran bukanlah Pembenaran

Featured

Sepintas kedua kata tersebut sama, dari kata dasar “benar”. Hiruk pikuk dunia bisnis, dunia politik dan dunia profesional tidak lepas dari kualitas seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak eling akan sering terjebak dalam memahami pembenaran dan kebenaran seakan-akan pada dimensi yang sama.

Apa sesungguhnya yang memberikan nuansa berbeda dari pembenaran dan kebenaran ini?

Point Pertama, Pembenaran bersumber subjektif. Seorang pemimpin ketika menghadapi berbagai masalah dan fenomena seringkali kehilangan kendali dan ketenangannya. Pemimpin seperti ini akan mudah terpancing menjadi tidak objektif dan mudah terbawa oleh arus. Pemimpin mudah dikendalikan suasana, dikendalikan kepentingan-kepentingan pribadi maupun kelompoknya sehingga tidak dapat melihat kebenaran dari masalah dan terjebak untuk mencari pembenaran. Lihatlah apa yang terjadi pada tawuran antar sekolah, tawuran antar kampung, dan blok-blokan antara satu kelompok partai dengan kelompok partai lainnya. Intinya sama saja dengan politik perkantoran yang memunculkan kubu suka dan kubu tidak suka. Pada kasus tawuran, murni kita melihat bahwa permasalahan bergeser dari kejadian sepele menjadi pertaruhan pride/ego.

Ketika ego berbicara maka pembenaran muncul. Ego demikian mahal sehingga selalu ada korban dalam setiap kali tawuran terjadi. Pada skala yang lebih besar ego menjelma menjadi teror yang bisa jadi berlandaskan pada pembenaran pembenaran primordial seperti pembenaran dengan latar belakang suku (ingat ribut-ribut kelompok Ambon di Kota), latar belakang agama (ini malah sudah terlalu sering), atau latar belakang politik. Dan celakanya, ini dipertontonkan ke khalayak umum, semoga anak-anak bangsa generasi penerus kita tidak meniru perilaku ini. Kalau sudah didasarkan pembenaran, maka seakan-akan semua sah atas nama kesucian kelompok.

Dalam skala yang kecil, di rumah tangga, kita menyaksikan kasus KDRT, perceraian dan berbagai kasus rumah tangga lainnya juga didasarkan pada pembenaran ini. Dengarkan lah ego masing-masing orang berbicara. Yang keluar adalah pembenaran, terkadang hal yang tidak relevan ikut serta dalam perdebatan. Persoalan yang sudah dikubur sekian lama ikut diangkat ketika ego berbicara. Di kantor, pemimpin yang tidak eling akan menggunakan subjektifitas dalam melihat masalah dan menilai bawahannya yang pada akhirnya muncul istilah “Aturan pertama : boss tidak pernah salah. Aturan kedua : kalau boss salah, lihat aturan pertama”.

Pembenaran menjauhkan kita dari penyelesaian masalah. Mengapa? Karena pembenaran menjauhkan kita dari kebenaran. Mengapa demikian? Mari kita masuk pada point kedua.

Point Kedua, Kebenaran selalu bersifat objektif. Pemimpin yang eling selalu meletakkan egonya dalam menghadapi segala masalah dan fenomena. Dengan modal eling, seorang pemimpin memiliki ketenangan seperti gunung yang kokoh dan kejernihan seperti air dan selalu menghadirkan solusi sesegar embun di pagi hari. Seorang pemimpin yang eling selalu memisahkan antara masalah dengan subjeknya sehingga seorang pemimpin yang eling dapat leluasa mencari akar masalah dengan mengunakan kaidah-kaidah problem solving. Dalam kalimat yang lebih ringkas saya mengatakan bahwa pemimpin yang eling ketika memisahkan subjek dan objek masalah akan mampu menerapkan pencarian akar masalah dengan mengandalkan sebab musabab yang saling berkaitan, this is because of that is. Hukum universal ini berlaku untuk semua fenomena. Tidak hanya dalam dunia bisnis, dunia ilmu pengetahuan (sains), dalam dunia agama sekalipun fenomena ini terbukti tetap berlaku. Ketika kita mampu menyelami semua fenomena secara objektif, kita terhindar dari ketergesa-gesaan untuk mencari pembenaran. Pembenaran selalu dimulai dari kata “Pokoknya”. Pokoknya harus begini, harus begitu. Kata kata ini menyumbat kreatifitas, menyumbat embun pagi yang segar untuk muncul dari pikiran seorang pemimpin.

Point ke tiga, Pembenaran memunculkan sikap kekanak-kanakan dan menghilangkan kedewasaan. Simaklah ketika orang mulai menggunakan pembenaran dalam setiap dalilnya. Logikanya bekerja terbalik. Bukan merunut akar masalah dan kemudian mencari solusinya, pembenaran selalu mulai dari solusi terlebih dahulu baru mencari-cari cara untuk menyambungkan semua fenomena, dalil untuk mendukung solusi tersebut. Bila hal ini terus-menerus terjadi, saya mengatakan bahwa pemimpin demikian menggunakan “kaca mata hitam” kemana pun dia berada. Semua gelap di depan matanya dan dia tidak merasa kalau sekarang sedang terang benderang. Celakanya dia selalu yakin dunia ini gelap alih-alih mencopot kaca matanya. Maka tak heran, banyak pemimpin yang berani teriak-teriak lantang bahwa dunia ini gelap dan mengajak semua orang mempercayai dunia ini gelap, tanpa dia terlebih dahulu meletakkan kaca mata hitamnya. Alangkah sedihnya! Pemimpin seperti ini akan sangat self-centric dan seringkali budeg alias tidak dapat mendengarkan orang lain dan tidak dapat melihat dari sudut pandang orang lain.

Point ke empat, Pemimpin yang eling selalu menunjukkan sikap dewasa. Pemimpin yang eling meletakkan masalah di meja, dan mengajak semua individu melihat masalah tersebut secara objektif dan bersama-sama mengkaji dan memecahkan masalah tersebut. Pemimpin seperti ini akan memberikan kesempatan untuk semua anggotanya untuk menjadi dewasa dalam pemecahan masalah. Meskipun pemimpin tau solusi langsung untuk memecahkan masalah tersebut, namun pemimpin yang eling akan memberikan kesempatan selalu agar semua orang terlatih untuk melihat semua hal secara objektif, sebab dengan cara demikian pemimpin yang eling akan melahirkan pemimpin eling lainnya.

Point Terakhir : Pembenaran membawa ego hitam dan putih, kebenaran berani menerima segala warna. Pemimpin yang tidak eling selalu terjebak antara dua kutub benar dan salah atau hitam dan putih. Baginya, hanya dua kemungkinan dalam suatu masalah atau fenomena yakni 0 dan 1. Pada dasarnya, semua masalah selalu memiliki begitu banyak variabel dan hukum sebab musabab yang saling bergantungan (this is because of that is) menguraikan bahwa benang kusut dari suatu fenomena haruslah diuraikan dengan kejernihan dan ketenangan. Dengan ketenangan dan kejernihan, kita dapat menarik akar dari masalah. Menariknya adalah solusi masalah tersebut bisa jadi sangat berwarna warni sama seperti sebab musabab masalahnya yang juga berwarna warni. Keberanian untuk tidak menerapkan logika streotypist amatlah diperlukan. Kita berada dalam masyarakat yang sudah terlalu lama terjebak dalam logika persepsi yang stereotype. Kita sering menghakimi orang karena latar belakang pendidikannya, sukunya, agamanya, warna kulitnya dan segala bentuk primordial lainnya. Akibatnya, sering kita menjadi terlalu mudah stereotype terhadap suatu fenomena. Dasar orang udik!!! Itu menyimpulkan kalau kita terserang penyakit stereotypist. Segeralah berobat dengan jamu eling agar gejala-gejalanya bisa diatasi, atau bila terlambat penyakit tersebut akan membuat moral anda butuh diamputasi.

Mari belajar eling, belajar untuk tidak terjebak dalam pembenaran, dan belajar untuk selalu bersikap objektif dalam upaya mencari kebenaran.

Kritik, komentar silahkan dilayangkan ke budiman.goh@gmail.com

Iklan

Kepemimpinan Eling : Sebesar apa kemampuan Memberi yang kita miliki?

Featured

Mindful leadership : Sebesar apa kemampuan Memberi yang kita miliki?

Industrialisasi lahir setelah masa Renaissance atau lahirnya sains moderen yang merupakan penemuan terbesar dunia di abad 14-16 menandai berakhirnya abad pertengahan. Gegap gempita dunia industri yang terkenal dengan ekploitasi terhadap segala sumberdaya alam seakan masih belum berakhir. Kolonialisasi adalah anak kandung perubahan ini dan Indonesia mengalaminya dalam masa yang cukup panjang. Tak heran bila kita juga mewarisi buah dari kolonialisme ini. Kita merasakan yang kuat mengendalikan yang lemah, yang bermodal dan bersenjata mengendalikan yang miskin dan tidak berdaya.

Bila di masa kemerdekaan kita masih mengalami dan menyaksikan pola tuan tanah (baron) dan para budak belian, sungguh ini bukan salah kita, namun warisan sejarah yang harus kita lawan. Jadi, tak heran bila seseorang ketika menjabat sebagai pejabat publik, atau seorang pemimpin di masyarakat, perusahaan bahkan keluarga berperilaku seperti baron tadi. Ketika memiliki kuasa, maka kita seakan berhak mendapat upeti dari yang kita kuasai, dan itu seperti HAK yang wajar. Jangan berpikir ini hanya ditujukan untuk para pejabat negara, di perusahaan juga upeti-upeti dari supplier, agency periklan, distributor, agen dan lain-lain mengalir deras kepada sang pemilik tanda tangan.

Tak kalah ruwetnya adalah rakyat jelata. Untuk mendapatkan ampunan hukuman, mendapatkan sesuap nasi, selembar proyek, atau sepenggal tandatangan rela untuk memberikan upeti, sogokan, atau uang pelicin kepada sang penguasa pemilik tandatangan. Ini juga warisan masa lalu : karena bila tidak bisa menjilat sang baron, hilanglah mata pencariannya atau bahkan sekaligus hilang nyawanya.

Dan selama beberapa generasi, kita telah berfokus pada sosok individu yang sukses dengan membandingkan kekayaan dan kepemilikan modal yang diperoleh tentu dengan semangat, kerja keras, bakat, dan tak lupa keberuntungan atau hoki.

Adam Grant menuliskan dengan gamblang bahwa kini keberhasilan tidak lagi mengandalkan hanya faktor-faktor tersebut. Sebagai Profesor termuda di Wharton, penelitiannya menjadi pembicaraan banyak orang. Dia diundang oleh banyak institusi untuk membagikan ilmu barunya. Saya sempat menyimak beberapa video kuliahnya dan memang tepat bahwa Givers akan lebih sukses daripada Takers.

Hari ini, keberhasilan semakin tergantung pada bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Apakah kita tipe pengambil (takers), pencocok (matchers), atau pemberi(givers)?

Kebanyakan tipe kita disinyalir adalah tipe pengambil yakni selalu ingin mengambil sebanyak mungkin dari orang lain, dari alam, dari siapa saja atau apa saja. Pengambil merasa hidup seakan-akan selalu dalam kekurangan. Selalu kuatir akan masa depan yang tidak menentu sehingga perlu mengambil apa yang bisa diambil untuk mencukupi dirinya, keluarganya dan kelompoknya. Ambil semua, agar skor di tempat lain tak bersisa alias 0. Ekspolitasi terus sehingga tak bersisa untuk orang lain. Apa salahnya?

Pencocok atau Matchers dalam definisi Grant adalah orang yang bertujuan untuk berdagang secara merata, kasih 100 untuk mendapatkan 100. Fair lah, kira-kira itu istilahnya.

Nah , yang menarik, si Pemberi adalah jenis langka tersebut. Orang-orang ini adalah orang yang berkontribusi kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Bodoh sekali si Pemberi ini, kata orang Pengambil.

Menggunakan penelitian awal yang dia lakukan sendiri, tipe Pemberi menunjukkan bahwa dengan gaya ini berdampak mengejutkan pada keberhasilan seseorang. Meskipun beberapa Pemberi terlalu berlebihan dalam memberi dan seringkali menjadi apes, namun sebagian besar menurut Grant mencapai hasil yang luar biasa di berbagai industri.

Grant menunjukkan bukti-bukti dari berbagai orang sukses yang mewarisi gaya ini. Barangkali para CEO dan Pemilik usaha besar di dunia juga sedang gandrung dengan efek Pemberi dan mulai menggalang berbagai upaya filantropis. Bill Gates, Larry Page dan beberapa nama besar bahkan Tahir (usahawan Indonesia) yang fenomenal karena menyumbang untuk Gates Foundation beberapa waktu lalu memiliki cerita sebagai Pemberi yang kurang lebih mirip yang digambarkan oleh Grant.

Kamu tidak akan kekurangan dengan memberi. Agama mengajarkan lebih baik memberi daripada menerima. Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Apresiasi saya untuk teman teman komunitas TDA (Tangan Di Atas) yang telah secara tidak langsung menjalankan bukti penelitian Grant ini.

Beberapa teman sempat mencibir, tentu saja para boss itu bisa seenaknya memberi karena dia telah memiliki begitu banyak harta. Namun simak cerita teman saya Ifly dari Dumai yang menceritakan kisah ayahnya yang selalu memberi dan selalu tidak kekurangan apapun. Ayahnya bukan orang kaya, namun orang sekampung tahu bila ada kesulitan datanglah ke ayahnya. Pernah suatu ketika ada ibu miskin beserta 2 orang anak yang hendak pulang kampung dan tidak memiliki uang. Dengan uang yang ada di dompetnya ayah teman saya Ifly ini memberikan uang tersebut agar ibu dan 2 anak itu dapat pulang kampung. Ifly heran, ayahnya selalu tidak pernah berkekurangan, meskipun tidak bisa disebut kaya secara harta, dia kaya secara hati. Kaya tidak selalu berwujud materi. Kaya adalah ketika kita mampu memberi.

Cerita lain yang tidak kalah menarik diceritakan oleh seorang teman dekat saya. Kisah ini tentang tukang bangunan. Beberapa tahun lalu, ketika rumahnya sedang direnovasi kecil, tukang bangunan yang bekerja selalu mendapatkan omelan karena pekerjaannya yang tidak rapih, selalu membantah ketika diberi masukan dan menggerutu atas apa saja yang dia peroleh. Teman saya, seorang sufi, menanyakan kepada tukang tersebut: “Bapak, kapan bapak terakhir kerja?” Sontak tukang tersebut menjawab : “Sudah 3 bulan nganggur dan ini baru kerja di rumah bapak”. Teman saya mengajaknya untuk mengubah “nasib”nya dengan banyak memberi. Jawaban yang sudah diduga dari tukang bangunan tersebut “Tidak mungkin. Saya saja kekurangan”. Teman saya kemudian menjelaskan bahwa dia lebih beruntung daripada tukang angkut batu, pasir yang ada di ujung jembatan. Tukang-tukang itu menunggu truk lewat yang membutuhkan jasanya. Kadang seminggu tidak mendapat pekerjaan sama sekali. Kemudian teman saya menyarankan untuk memberikan sedikit dari penghasilannya untuk tukang-tukang tadi. “Kalau bapak makan sebungkus nasi pakai ikan atau daging, mungkin bapak bisa beli 2 bungkus nasi dengan lauk sederhana seperti tempe tahu. Berikanlah sebungkus untuk tukang-tukang pengangkut batu dan pasir itu niscaya nasib bapak akan berubah.” Entah kenapa, sang tukang mengikuti sarannya. Dan cerita tidak berakhir sampai di sini. Perubahan terjadi pada tukang tersebut. Dia lebih bisa menerima kritikan dari pemilik rumah. Dia bisa tersenyum karena senyum adalah juga ibadah. Senyum adalah sikap Pemberi. Kini, setelah menyelesaikan rumah teman saya, dia sudah mendapat kerja di tempat lain. Dan ketika cerita ini saya dengar, sang tukang tidak pernah sepi dari pekerjaan karena seperti kata Grant Pemberi selalu disenangi dan orang akan dengan rela hati mengenalkan Pemberi untuk mendapatkan rejeki-rejeki baru. Seandainya si tukang tahu bahwa dia baru saja mengubah mindset-nya dari Takers menjadi Givers, dan itulah yang mengubah hidupnya. Dia dikenalkan oleh seorang pemilik rumah ke pemilik rumah lain, entah itu tetangganya, saudaranya, handai taulannya hanya karena Pemberi selalu bahagia memberikan yang terbaik untuk orang lain.

Sebuah video yang saya tonton tentang pengemis yang berbagi nasi bungkus bekas dari restoran dengan seekor anjing jalanan begitu menggugah banyak hati. Pengemis itu tau “rasa lapar” sang anjing karena dia merasakan rasa lapar tersebut dan rela membagikan sedikit miliknya kepada maaf, seekor anjing buduk. Kebanyakan kita melempari anjing tersebut karena kotor.

Dalam mindful leadership, belajar welas asih, selalu memiliki energi menolong dan memberi adalah salah satu kecerdasan emosi tingkat tinggi. Ketika kita selalu memiliki mental tersebut, maka orang sekeliling kita akan merasakan kebermanfaatan dari kehadiran kita. Energi welas asih dapat menyiram kemarahan, kesombongan dan kemunafikan. Ketika kita dapat memberi tanpa pamrih, di saat itu juga alam menghujani kita dengan berbagai hadiah, paling tidak sebuah senyuman dan perasaan bahagia karena kita telah berani melepaskan yang kita miliki untuk orang lain. Entah itu materi (harta benda) atau non materi (waktu, tenaga, perhatian, senyuman) semua akan membawa kita pada kebahagiaan. Pada bulan Idul Adha yang baru lalu, energi itu ada di sekeliling kita, semoga tidak hanya pada saat Idul Adha semangat berkorban untuk sesama itu ada.

We give not because we have many, but because we can feel if we have nothing. Mari belajar memberi, anda tidak perlu tahu kapan anda akan menerima. Alam akan mengaturkannya untuk anda! Ketika anda memberi, kebahagian adalah buah langsung yang lebih mahal dari sebuah Ferrari (hasil dikorupsi di Tangerang) dan Lamborghini (milik orang ternama yang ringsek ditabrak). Mari kita eling, dan terus belajar memberi.

Komentar anda atas tulisan ini dapat dikirimakan ke budiman.goh@gmail.com

Inteligensi Digital (Digital Intelligence). Sudah siapkah anda dan generasi anda?

Tag

,

Inteligensi Digital (Digital Intelligence). Sudah siapkah anda dan generasi anda?

Bagi penikmat video dan kutipan Jack Ma, kunci sukses menurutnya adalah kecerdasan emosional – EQ. Tapi jika Anda ingin dihormati, katanya, Anda memerlukan “LQ (Love Quotient) tinggi – IQ cinta”. Ini tentu sangat tepat. IQ is nothing tanpa EQ yang diekstensi menjadi LQ oleh Jack Ma.

Ada satu pikiran mengganjal ketika membaca tulisan dari lembaga DQInstitute. Jack Ma mungkin melewatkan atau lompat ke ujung kesimpulan tentang LQ.  Ada sesuatu yang hilang dari daftarnya. Jenis kecerdasan lainnya sangat penting untuk menavigasi jenis kerajaan bisnis yang didirikannya sendiri ALIBABA.

Kecerdasan Digital atau DQ yang akan menjadi penting di saat ini dan masa depan bagi kesuksesan individu dan kesejahteraan masyarakat. Masalahnya kebanyakan negara di dunia mungkin tidak cukup memahami apa sebenarnya DQ dan mengapa menjadi begitu penting.

Banyak yang menganggap DQ berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menggunakan teknologi secara lebih efektif, seperti cara coding/mrogram, men-debug program yang tidak bekerja dengan baik, atau menggunakan fitur smartphone Anda dengan canggih. Sebenarnya, ini bukan DQ.

Di sisi lain. Banyak orang yang sudah jenuh dan jengah dengan keterikatan/kemelekatan pada teknologi ini. Mereka mulai membatasi waktu mengakses layar ponsel, menyadari bahaya perkembangan bagi anak-anak yang terlalu sering menatap layar ponsel.  Sebagian orang menjadwalkan kapan harus melepaskan koneksi dari perangkat canggih tersebut dan segala hal yang terkait dengan kecanduan dan “keracunan digital”. Meskipun ini adalah bagian dari DQ, sebenarnya ini hanya satu dari delapan elemen utama yang mendefinisikannya oleh DQinstitut.

Menurut DQInstitut, yang menciptakan akronim ini pada tahun 2016, kecerdasan digital adalah “tingkat kemampuan sosial, emosional dan kognitif yang memungkinkan individu menghadapi tantangan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupan digital”.

Media, aplikasi dan platform digital baru diluncurkan setiap tahun dengan jumlah pengguna yang terus meningkat terutama pada anak-anak dan generasi muda. Kini mereka menikmati semua kemudahan itu tanpa menjalani persiapan yang panjang.

Kini, seorang anak berumur delapan tahun dapat dengan mudah memperoleh akses internet lewat koneksi nirkabel dan memainkan aplikasi games maupun aplikasi lainnya.

Tapi tidak seperti IQ, yang umumnya dipandang sebagai kecerdasan yang ditentukan secara genetis, DQ adalah sesuatu yang perlu dibangun. DQ akan menjadi fundamental bagi pengembangan keterampilan abad ke-21 untuk angkatan kerja di masa depan karena, seperti bahasa, bahasa digital ini paling efektif diserap pada usia muda.

Saat imlek kemarin, bertemu dengan keponakan-keponakan. Sambil berbagi cerita, anak yang berusia di bawah 10 tahun kini belajar bahasa inggris lebih cepat lewat permainan games. Les yang dibayar orang tuanya seakan kalah efektif dengan aplikasi games.

Sebuah studi baru-baru ini, yang dilakukan terhadap 38.000 anak-anak berusia 8-12 di 29 negara yang berbeda, menemukan bahwa lebih dari setengah terdampak setidaknya satu ancaman terkait dunia online. Ancaman semacam itu termasuk mengurangi empati digital – yang menyebabkan meningkatnya kecemasan dan tekanan sosial di antara teman sebayanya – waktu melihat layar yang berlebihan, kecanduan digital, cyber-bullying, cyber-crime, pencurian identitas digital, pemahaman soal jejak digital, pengaturan privasi online dan ekspose informasi pribadi di dunia digital.
Sadar atau tidak, ketidakmampuan memahami DQ ini telah mengakibatkan kericuhan di tengah-tengah masyarakat kita. Ketika jari lebih cepat dari hati, maka jejak digital menjadi momok menakutkan. Di dunia digital, screen shoot, dan jejak digital terkadang terlalu berbahaya untuk anda yang ber DQ rendah.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi dari penelitian tersebut, kaum muda dari negara-negara berkembang 1,3 kali lebih banyak diekspos daripada rekan-rekan mereka yang tinggal di negara-negara maju secara digital. Dan ini berbahaya, kejahatan digital dimulai dari rendahnya DQ.

Fakta bahwa seorang anak dapat memperoleh akses ke dunia online dari telapak tangan dan jarinya, di mana pun, harus menjadi perhatian kita sepenuhnya. Tidak hanya orang tua dan organisasi masyarakat sipil, pendidik, penegak hukum, pemerintah, media dan bahkan pegiat startup perlu memahami implikasinya.
Apa arti semua ini bagi kita?

Rata-rata, sistem pendidikan di seluruh dunia kurang dilengkapi untuk menetapkan standar dan pedoman seputar kehidupan online bagi kaum muda, apalagi memahami kapasitas DQ anak didiknya di sekolah.

Termasuk orangtua yang memiliki anak milenial, kurang memahami aspek DQ ini. Konsekuensinya bisa sangat negatif.

Di Florida USA, penembakan terhadap belasan anak oleh seorang pemuda 19 tahun tidak lepas dari suasana masyarakat yang terprovokasi oleh dunia digital. Salah seorang siswa, Matthew Walker, mengatakan bahwa Cruz sering memotret dan mengunggah foto pisau dan senjata apinya di media sosial. “Semua yang dia posting adalah tentang senjata,” kata Walker.

Polarisasi pro dan kontra terhadap berbagai isu turut membuat masyarakat terpolarisasi. Di beberapa bagian dunia, media sosial yang digunakan oleh remaja yang rendah DQ dikaitkan dengan kenaikan tingkat bunuh diri remaja.

Beredarnya berita HOAX/palsu juga berkontribusi atas semakin panasnya dunia ini. Hot Flat and Crowded sebagaimana yang diekspresikan oleh wartawan New York Times, Thomas Friedman. Semakin rendahnya tingkat DQ dalam sebuah masyarakat maka penyebaran informasi salah digital (juga dikenal sebagai “berita palsu”) semakin massif.

Khusus Indonesia, ditambah dengan survey tingkat literasi UNESCO dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Pertama, belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua dan anak-anak biasanya mengikuti kebiasaan orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca menjadi penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak.  Jadi, kalau kita baca judul dan isi berbeda saja masih belum bisa dipahami, akibatnya banyak provokasi terjadi. Broadcast, share, retweet dan lain-lain dilakukan dengan tingkat literasi rendah, akibatnya kehancuran bisa terjadi. Digital empathy (salah satu dari 8 dimensi DQ) kita sudah demikian parah. Jari lebih cepat dari hati!

Salah satu dari 8 dimensi DQ adalah Digital Bullying. Banyak anak remaja yang depresi karena dimusuhi secara digital. Perilaku berkelompok dalam dunia digital turut menyeret anak remaja dalam digital bullying. Sayangnya, kadang orang tua tidak memahami karena hal tersebut terjadi di dunia maya. Ke-tidakmampuan orang tua mengikuti apa yang dikerjakan anaknya di dunia maya juga membuat jurang yang lebar antara orang tua dan anak remaja. Di mata remaja, orang tua hanya tukang ngomel yang melarang anaknya main game, main fb tanpa pernah mau memahami dunia mereka. Semakin berjarak orangtua dengan anak, semakin berbahaya dan semakin sulit kita mengakses anak dari perilaku bullying, narkoba, cyber-crime dan lain-lain.

Tanpa kemampuan DQ yang memadai dan kemampuan berpikir kritis, yang tertanam sejak usia muda, orang cenderung untuk terjebak dalam berbagai kegiatan di dunia digital tanpa memahami konsekuensinya. Terkadang remaja tercyduk (bahasa kekinian) karena berperilaku tidak wajar dan dipamerkan di media sosial. Foto, video, ujaran kebencian seakan tak terkontrol. Remaja dengan hormon yang bergolak dan dalam periode pencarian identitas sangat rentan terhadap jebakan batman ini.

Memahami soal Digital Intelligence membuat kita semakin sadar bahwa perlu kerja keras dari seluruh mata rantai mulai dari wartawan hingga politisi, platform aplikasi hingga organisasi, sekolah, orang tua dan masyarakat sipil perlu ditingkatkan untuk mencerdaskan masyarakat terhadap DQ ini. Meskipun tanggung jawab akhirnya terletak pada para pengguna.

Mari kembali eling. Kebanyakan kita memiliki smartphone, dari anak sampai orang-tua. Hendaknya bukan hanya phone-nya saja yang smart. Penggunanya justru harus lebih smart. Welcome Digital Intelligence!!!

Memimpin dengan Eling : Keserakahan tidak mengenal suku dan agama

Memimpin dengan Eling : Keserakahan tidak mengenal suku dan agama

Dikisahkan seorang Petani Tua menuliskan di papan depan rumahnya sebagai berikut : TANAH DAN RUMAH INI AKAN SAYA BERIKAN KEPADA ORANG YANG TELAH BENAR CUKUP DAN PUAS DENGAN KEHIDUPAN.

Beberapa orang yang lewat depan rumahnya membaca dan tersenyum namun tidak berani masuk ke rumah Petani Tua. Sampai akhirnya ada seorang petani kaya yang tinggal tidak jauh dari daerah tersebut juga lewat dan membacanya. “Saya lah orang yang tepat!” Demikian gumamnya. “Saya kaya dan memiliki apapun dan hidupku berlimpah harta dan aku puas dengan apa yang aku miliki. Akulah yang cocok dengan pengumuman ini.  Mumpung belum ada orang yang mengklaim tanah dan rumah ini, saya harus segera menemui pemiliknya.”

Dia masuk ke pekarangan rumah dan mengetuk pintu serta mengungkapkan siapa dirinya. “Benarkah kau orang yang telah benar benar puas?” Tanya Petani Tua.

“Ya. Benar sekali. Saya punya apapun yang saya mau dan inginkan” Jawab Petani Kaya.

“Begini Kawan” Kata Petani Tua. “Kalau kau sudah punya segalanya, ngapain masih mau rumah dan tanah saya?”

Petani Kaya sontak merah padam mukanya dan bergegas keluar dari rumah Petani Tua. Keserakahan, seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus.

Tentu tidak terlalu sulit untuk memahami cerita tersebut. Greed, rakus atau lobha adalah akar kebodohan. Membuat orang berani berbuat apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau.

Nonton The Wolf of Wall Street  yang dibintangi Leonardo DiCaprio, sarat dengan tipuan demi tipuan goreng menggoreng saham.  Kita belajar dari film tersebut bagaimana orang lebih banyak ditipu oleh penampilan yang necis (high class),  bermobil mewah, rumah mewah, dan mungkin juga pelesir mewah. Jadi, yang bergabung dengan gang The Wolf ini adalah orang yang memimpikan mewah-mewah tadi. Tipuan model apapun jadi lah asal bisa memenuhi impian mewah-mewah tadi.  Sialnya, yang ditipu juga memiliki mimpi yang sama, sehingga terpesona dengan penampilan luxury dari para penipu.

Di Indonesia, ponzi/money game, tidak pernah sepi memakan korban. Tiap tahun bergiliran yang kena. Modusnya beda-beda, korbannya beda-beda. Dasarnya sama, keserakahan dari Penipu dan yang ditipu. Mau dibalut dengan bahasa marketing apapun intinya sama saja. Ada yang memarketingkannya lewat ilmu Robert Kiyosaki  4 Kuadran. Ada yang pakai ilmu Anthony Robbin. Ada yang disisipi NLP. Tentu Robert Kiyosaki, Anthony Robbin, maupun pakar-pakar NLP tidak salah ilmunya, namun seperti pisau, bisa dipakai untuk kebaikan, bisa juga untuk membunuh.

Bukan hanya orang-orang yang disebut pakar tersebut kini yang sering dicatut untuk penipuan money game. Kini, penampilan yang agamis, diikuti dengan atribut-atribut agama ikut memainkan peran yang sama. Sama sama digunakan untuk menjebak korban yang terkadang terlalu polos untuk memahami makna dibalik kata-kata orang hebat dan tampilan-tampilan yang memukau tersebut.

Keinginan untuk cepat kaya, cepat bersinar membuat kita lupa akan arti kesederhanaan. Tak salah bila para bijaksana selalu mengajarkan kita tentang ilmu kesederhanaan. Agar kita tidak tersilaukan oleh gemerlap duniawi dan menjadi korban darinya. Pelajaran dari Ibu alam “Padi yang semakin berisi semakin menunduk” hendaknya tetap bersemi di para pemimpin yang eling. Agar tidak ada lagi korban-korban money game atas nama keserakahan tadi.

Jangan takut anda akan diremehkan ketika anda tetap tampil sederhana. Kesederhanaan tidak akan membuat anda yang berilmu menjadi hilang ilmunya.

 

Mari kita kembali eling  (@budimangoh)

Memimpin dengan Eling : Semeleh, Bahagia itu sederhana

Memimpin dengan Eling : Semeleh, Bahagia itu sederhana

 

Musafir  : ” Seperti apa cuaca yang akan muncul hari ini wahai Pak gembala ?”

Gembala : “Cuaca yang saya suka.”

Musafir  : “Bagaimana Anda tahu cuaca yang akan muncul adalah cuaca yang Anda sukai?”

Gembala : ” Tuan, Setelah saya mengetahui bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, saya belajar untuk selalu menyukai apa yang saya dapatkan. Jadi saya yakin kita akan memiliki cuaca yang saya sukai.”

Di kesempatan lain, seorang nenek selalu terlihat murung. Di saat musim hujan, dia selalu merisaukan cucunya yang penjaja gorengan keliling. Wah, hari ini cucuku yang jualan gorengan bakalan tidak laku dagangannya.  Sungguh malang nasibnya. Saat musim kemarau, sang nenek merisaukan cucunya yang jadi ojek payung. Wah, cucuku yang ngojek payung pasti sepi rejekinya. Alangkah malang nasibnya.

Melihat itu, seorang sufi mendekati sang nenek. “Nek, kalau musim hujan, berbahagialah karena cucu nenek yang ngojek payung pasti dapat rejeki besar. Kalau musim kemarau bersyukurlah karena cucu nenek yang menjajakan gorengan pasti dapat rejeki besar.” Sejak itu  senyum sumringah selalu terlihat di wajah sang nenek.

Bahagia itu sederhana, cukup mengubah mind-set kita. Stop selalu menyalahkan orang lain atu menyalahkan keadaan.  Kita sering mendengar orang komplain karena hujan sehingga aktifitas terganggu. Giliran dikasih panas, teriak panas dan terganggu juga. Jadi sebenarnya mau mu apa sih?

Saya sering bergurau tentang teman saya dulu yang sering saya ajak main basket. Diajak main basket siang dia bilang masih panas, diajak sore, eh dia bilang sudah mau mahgrib. Diajak malem apalagi, “gila lu bro, malam malam ajak main basket.”

Pak Gembala dengan bijaksana menyesuaikan dirinya dengan alam semesta. Menghargai apapun fenomena yang dia terima. Hujan berkah, panas pun berkah. Ketika sudah bisa merasakan anugrah sekecil apapun, maka bahagia tidak terlalu jauh dari diri kita. Kebahagian lahir ketika dapat hidup selaras dengan alam.

Dalam menjalankan kehidupan ini kita harus “semeleh” demikian wejangan orang tua jaman dulu.  Semeleh berasal dari akar kata “seleh” yang berarti letak atau Fang Xia. Meletakkan beban. “Semeleh” adalah meletakkan segala sesuatu apa adanya. Hujan, panas adalah apa adanya. Terima dengan suka cita. Bahagia itu sederhana, cukup bisa menerima dan bersyukur atas apa pun yang kita miliki. Mudah dilayani, mudah pula melayani, niscaya hidup bahagia. Selama nafas masih bersama tubuh kita, jangan lupa untuk mensyukurinya.

Bila kurang eling, kita sering terjebak dalam fenomena Self-centered.  Semua-semua diukur dari sudut pandang kita. Alam pun ingin kita atur seperti maunya kita. Pada tahapan yang serius muncul penyakit yang disebut  self centered personality disorder? Self centered personality disorder dikenal juga dengan narcissistic personality disorder. Segala sesuatu diukur dari derajat kepentingan dia semata-mata.  Sulit buat orang seperti ini berbahagia.  Kalau pas kita menggunakan kaca mata hitam, hitam lah seluruh dunia.

Ciri-ciri Self centered personality disorder adalah derajat ego yang melebih batas, merasa dirinya lebih penting dari yang lain. Efek buruknya adalah kehilangan empati dan welas asih kepada mahluk lain. Ingat kejadian seorang istri pejabat menampar petugas di bandara? Itu  ciri-ciri self centered personality disorder. Egonya besar, merasa dia yang paling benar, dia istri pejabat. Duitnya banyak. Kamu, petugas bandara (dan wartawan) gajinya kecil, kog berani berani nantang saya yang punya banyak harta (dan kuda). Mungkin seperti itu cara berpikirnya.

Belum terlambat untuk belajar semeleh agar kita dapat lebih mudah bahagia. Dengan belajar mengubah mind-set kita, seperti sang nenek, dia akan berbahagia sepanjang tahun.

Eling selalu @budimangoh

Memimpin dengan eling : Fang Xia, letakkan beban dan nikmatilah keheningan

Memimpin dengan eling : Fang Xia, letakkan beban dan nikmatilah keheningan

Image result for memikul beban

Hogen, seorang guru Zen, tinggal sendirian di sebuah kuil kecil. Suatu hari empat biarawan yang sedang bepergian muncul dan bertanya apakah mereka mungkin membuat api di halaman kuilnya untuk menghangatkan diri. Sementara mereka membuat api, Hogen mendengar mereka berdebat tentang subjektivitas dan objektivitas.
Dia bergabung dengan mereka dan berkata:  “Ketika lewat kuil apakah anda tau ada batu besar? Apakah batu tersebut ada di dalam atau di luar pikiran Anda?”. Salah satu biarawan menjawab: “Batu tersebut adalah merupakan objek dari pikiran, jadi saya akan mengatakan bahwa batu itu ada di dalam pikiran saya.”.
“Kepala Anda tentu sangat berat,”  ujar Hogen, “jika Anda membawa batu seperti itu dalam pikiran Anda.”.
Di peristiwa yang lain, 2 orang biarawan muda sedang dalam perjalanan ke sebuah desa dan akan melewati sungai yang airnya cukup deras. Terlihat di tepi sungai seorang wanita yang juga kebingungan hendak menyeberangi sungai tersebut. Peraturan biara tidak membolehkan biarawan menyentuh wanita. Melihat pemandangan tersebut, salah seorang biarawan muda menggendong wanita tersebut dan membawanya menyeberangi sungai. Setelah itu keduanya melanjutkan lagi perjalanannya ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan, biarawan muda yang menyaksikan temannya menggendong wanita tersebut terus berpikir akan pelanggaran yang telah dilakukan temannya.

Sesampainya di kuil tujuan, bergegas sang biarawan menemui Guru Kepala pemimpin kuil tersebut dan melaporkan kejadian tersebut. Dengan tersenyum Guru Kepala mengatakan “Berat sekali bebanmu nak. Menggendong wanita itu dari siang sampai malam. Temanmu sudah meletakkannya segera setelah ia menyebrangi sungai”

Kedua cerita itu sekedar menggambarkan betapa kita senang menggendong segala masalah dalam kehidupan kita sehari-hari.  Menggendong masalah terus menerus seperti sindiran Hogen akan membuat hidup kita menjadi berat. Apalagi bila masalah tersebut tidak pernah kita letakkan dan membiarkan pikiran kita beristirahat untuk menikmati keadaan di sini dan saat ini.

Apalagi bila sepanjang hidup kita terus mengoleksi kesalahan orang lain. Ibarat sniper, selalu membidik kesalahan yang dilakukan orang lain. Persis seperti sindiran Guru Kepala. Lihatlah sekeliling kita, twitwar, saling melempar nyinyiran, menjadi makanan sehari-hari. Jari jemari kita pun lincah meneruskan nyinyiran tersebut, hanya karena kita lebih suka si A ketimbang si B.

Ketika Pemimpin telah terlibat suka dan tidak suka, maka dia akan kehilangan objektifitasnya. Pemimpin akan sulit melihat kesalahan dari anggota yang dia suka, dan sulit menerima masukan dari anggota yang tidak disukainya. Pemimpin harus bisa terbebas dari dualisme ini. Sebab keduanya adalah akar dari kebodohan dan penderitaan.

Dalam hidup yang tersekap oleh padatnya jadwal dan aktifitas, seringkali kita lupa untuk mengendapkan pikiran kita, mengheningkan diri, menjernihkan pikiran dari polusi. Fang Xia, atau meletakkan beban, kembali ke titik 0 atau istilah kerennya grounded adalah cara alam untuk menetralisir polusi-polusi pikiran yang muncul setiap hari.  Penangkal petir, atau kaki saklar ground digunakan untuk menetralisir bocoran-bocoran arus listrik dan menetralkannya kembali. Pikiran juga begitu, membutuhkan keheningan untuk menetralisir polusi yang masuk setiap hari. Pemimpin layak menyisihkan waktunya untuk mengheningkan diri agar dapat kembali jernih dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Berikanlah waktu untuk mencukupi pikiran anda dengan nutrisi keheningan agar ia dapat kembali segar dan objektif kembali. Hening bukanlah menghambur-hamburkan waktu anda yang super sibuk. Hening membuat kualitas hidup anda menjadi lebih baik, mengambil keputusan lebih baik, menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Ketika hening, letakkanlah semua beban, nikmatilah keadaan di sini saat ini, hanya nafas kelahiran yang akan menemani anda. Nafas yang sering kita lupa, adalah sumber kehidupan. Dengan melakukannya anda pasti akan lebih pandai bersyukur dengan apa yang anda miliki di sini saat ini. Masa lalu telah berlalu, masa depan belum lah datang. Hiduplah saat ini, di sini, tempat di mana nafas masih bersama-sama dengan kita.

 

Mari kembali eling (@budimangoh)

Memimpin dengan Eling : Ekor bukan Kaki

Memimpin dengan Eling : Ekor bukan Kaki

Abraham Lincoln pernah bertanya kepada salah satu dari sekretarisnya, “Jika Anda menyebut ekor kuda sebagai kaki, berapa banyak kaki yang kuda miliki?”.
“Lima,” jawab sekretaris.
“Tidak,” kata Abraham Lincoln, “Jawabannya adalah empat. Menyebut ekor sebagai kaki tidak membuatnya menjadi kaki.”

Di jaman kaliyuga ini dimana kesadaran sprititual menurun, maka orang yang eling dan waspada lah yang akan dapat bertahan dalam turbulensi dan akselerasi.  Berani mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan bukan karena kata orang lain (sekalipun dia adalah orang berpangkat, orang berada, tokoh atau apapun title dan jabatannya) sudah jadi barang langka saat ini. Sekretaris Lincoln tentu sangat menghormati sang Presiden, tapi dia lupa tidak selamanya apapun yang salah bisa jadi benar hanya karena disampaikan oleh seorang tokoh.

“Pabrik” HOAX sadar betul tentang kondisi psikologis dan kemampuan intelijensi bangsa kita. Hanya dengan memberikan gambar comotan dan dibumbui kata-kata yang panas, kita mudah terbakar. Tak salah kalau Thomas Friedman mengeluarkan buku, yang judulnya Hot Flat and Crowded. Dunia ini panas, sumpek dan datar (note: bukan bumi datar). Sadar bener pabrik tersebut kalau orang mudah terpancing dengan berita HOAX. Mencantumkan nama IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk sebuah posting tentang makanan, minuman obat-obatan bisa membuat orang percaya tentang isi postingannya. Tanpa periksa, tanpa meneliti sumbernya, apalagi tanya langsung ke IDI. Mencantumkan quote, sabda, fatwa pun sangat sakti untuk ditelan mentah-mentah. Namun, bukan karena mencantumkan IDI makan postingan itu pasti benar dan pasti sahih untuk kemudian anda viralkan.

Patutlah kita belajar untuk mau mencari tau secara objektif semua hal sebelum buru-buru membenarkan atau menyalahkannya, apalagi menyebarkannya.

Bukan hanya seorang sekretaris yang tidak boleh mengubah ekor menjadi kaki, seorang pemimpin yang eling dituntut hal yang sama. Pemimpin eling wajib mengedepankan objektifitas ketimbang subjektifitas semata. Banyak pemimpin yang kupingnya tipis. Kuping cepat panas dapat laporan dari sumber mana saja, apalagi dari teman yang dianggap baik, dipercaya. Tanpa selidik, tanpa menguji, menganalisa langsung menjatuhkan vonis, mengambil keputusan. Pemimpin seperti ini akan terjebak oleh subjektifitas belaka. Kemampuannya untuk dapat menjadi objektif dalam memecahkan masalah tidak pernah diasah. Dia tidak mampu berhenti sejenak untuk menganalisa dan mencari tau kebenaran informasi tersebut. Dia terjebak oleh kemelekatan kepada penyampai berita.

Jangan jadi pemimpin seperti itu. Jangan jadi pemimpin yang panasan, yang mudah dikompori dan kemudian membakar sekelilingnya. Di US, anger management training mahal harganya. Anda tentu tidak ingin jadi salah satu pasien yang harus di-therapy karena kuping anda tipis dan cepat nyemburin api bila mendapat informasi yang tidak menyenangkan. Ingat! Ekor tetaplah ekor walaupun ada yang menyebutkan ekor itu adalah kaki, walaupun menyebutkan itu adalah teman baik anda, guru anda, atau “dukun” tetangga kampung sebelah.

Eling selalu (@budimangoh)